P2GHA Selenggarakan Sekolah Gender

Sekolah Gender di UIN Sunan Kalijaga Estafet HAM di Indonesia

Jum’at, 20 April 2018, P2GHA/PSW dan KIJ UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Sekolah Gender putaran pertama di tahun 2018. Acara ini diselenggarakan di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Sekolah gender ini dihadiri oleh 103 peserta dari berbagai latar belakang seperti mahasiswa, dosen, aktivis, dan ibu rumah tangga. Sekolah ini akan berlangsung selama 4 minggu kedepan, yakni pada tanggal 27 April, 4 Mei dan 11 Mei 2018, dengan materi-materi yang terkait dengan gender dan Islam serta HAM.

Direktur KIJ, Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A, yang juga membuka rangkaian sekolah ini, dalam sambutannya menyampaikan tiga hal, pertama, di beberapa negara, affirmative action atau 30% kuota untuk perempuan telah bergeser. Realitasnya di negara Barat jumlah perempuan yang aktif di parlemen hampir 70% diduduki oleh perempuan, sehingga laki-laki menempati 30%. Hal ini cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia dengan jatah 30% kuota perempuan yang tidak terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu masih penting membahas gender. Mengapa gender? Karena gender ini masih menjadi isu yang seksis dan sekaligus menjadi analisis yang ramah terhadap kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Kini persoalan berbasis gender semakin marak, begitu juga dengan isu seksualitas. Dalam era demokrasi, kesejahteraan, pembangunan dan keadilan harus dapat dinikmati oleh siapapun tanpa melihat latar belakang ras, etnis, bahasa, dan agama. Kedua, mengapa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta? Awalnya terdapat Pusat Studi Wanita (PSW) yang didirikan di seluruh uinversitas negeri di Indonesia salah satunya UIN Sunan Sunan Kalijaga. Dalam hal ini UIN Sunan Kalijaga membantu program pemerintah untuk menganalisis hambatan yang dihadapi perempuan. Ketiga, semakin marak isu toleransi beragama di Indonesia, UIN Sunan Kalijaga harus menjadi leading karena membahas isu tersebut juga tidak terlepas dari pemahaman yang bias gender. Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, terdapat dua organisasi keagamaan besar yakni Muhammadiyah dan NU yang menjadi spirit lahirnya Islam demokratis yang mampu menjaga tolenrasi umat beragama di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Dr. Inayah Rohmaniyah yang menjadi pembicara pertama dalam sekolah ini, menyampaikan materi tentang Gender dan Seksualitas. Dalam kesempatan ini, bu Inayah mengajak peserta menelusuri geneologi mengapa konsep gender ini sangat penting di ranah ilmu-ilmu social, khususnya sosiologi. Salah satunya adalah karena teori-teori utama seperti strukturalisme, marxisme, dll yang menjadi dasar pijakan analisis penelitian - penelitian, belum memilah kebutuhan dan kepentingan manusia berdasarkan gendernya. Hal ini tentu saja berdampak pada perempuan khususnya, baik itu marginalisasi, stereotipi, dan lain-lain. Selain itu, bu Inayah juga menjelaskan hal-hal yang terkait pada Gender dan Seksualitas, antara lain Pertama, Gender dan seksualitas merupakan dua hal yang berbeda. Gender berkaitan dengan konstruksi sosial antara laki-laki dan perempuan terhadap pembagian bentuk peran,relasi, tanggung jawab, akses dan kontrol, dan hal ini dapat dipertukarkan. “Perempuan, meski di dalam hutan belantara tetap disebut perempuan karena memiliki payudara, rahim, dan vagina. Begitu juga laki-laki yang pandai memasak, tetap disebut laki-laki karena ia memiliki penis.” .Sedangkan seksualitas membincang seputar alat reproduksi yang tidak dapat dipertukarkan dan menjadi kodrat manusia. Mengapa gender jadi masalah? Karena melahirkan diskriminasi berbasis gender seperti stereotipe (pelabelan), subordinate (penomorduaan), marginalisasi (peminggiran), dan double burden (beban kerja ganda). Kedua, Ilmu yang dapat membantu untuk menganalisis persoalan ketidakadilan gender adalah teori feminis. Namun setiap feminis melahirkan teori yang beragam berdasarkan sumber ketidakadilan yang terjadi seperti feminis liberal, feminis radikal, feminis sosialis, dan feminis agamawan. Ketiga, sejauh penelitian yang telah dilakukan oleh Inayah dengan menggunakan teori sosial, keluarga merupakan pintu utama pembentukan subjek/ diri. Keluarga adalah lembaga terkecil dalam suatu masyarakat yang memperkenalkan dan mengajarkan nilai dan norma hingga terjadi proses internalisasi, objektifikasi dan eksternalisasi yang membentuk perilaku subjek.(ZAIM)