Pusat Pengarusutamaan Gender dan Hak Anak Menyelenggarakan Bedah Film Bridget Jones's Diary

Pada hari Sabtu, 2 November 2019, Pusat Pengarusutamaan Gender dan Hak Anak beserta Mahasiswa Pascasarjana Konsentrasi Islam dan Kajian Gender telah melaksanakan Tadarus Film yang membedah pemikiran Angela McRobbie, seorang teoris feminis, melalui film Bridget Jones’s Diary.
Bridget Jones’s Diary sendiri didasarkan pada novel Helen Fielding yang mengisahkan seorang perempuan bernama Bridget berumur 32 tahun yang selalu didesak oleh lingkungan keluarga untuk segera menikah. Dalam proses pencarian pasangan hidup itulah Bridget mendapati dirinya dalam kebebasan dan kenikmatan hidup dengan kesendirian. Pada kesendiriannya itulah ia mulai menginternalisasi tentang apa itu kecantikan dan kesempurnaan fisik seorang perempuan.
Dalam pembukaannya, Miftahul Huda, coordinator panitia Tadarus Film ini menyampaikan acara ini sebagai inisiatif bersama P2GHA dan mahasiswa IKG UIN Sunan Kalijaga, yang didorong keinginan untuk membumikan diskursus Gender ke khalayak ramai.
Direktur P2GHA dalam sambutannya menyampaikan sambutan positif atas inisiatif untuk mengkaji gender dalam format bedah film. Kajian ilmiah dapat dilakukan melalui hal-hal yang menghibur, seperti film dan novel.
Evolusi feminism telah menunjukkan perjuangan untuk menggeser bahkan merombak disparitas yang public dan yang privat. Karena menurut kacamata feminis yang public dan yang privat adalah konstruksi patriarki sehingga perempuan hanya dilihat sebagai objek dan bukan pelaku publik. Keberhasilan feminism kemudian diafirmasi melalui kekuatan teoritis dan advokasi sehingga muncullah konvensi PBB untuk menghadirkan 30% perempuan dalam parlemen, diskriminasi perempuan harus dihapuskan, dan tindak kekerasan seksual terhadap perempuan harus diadili.
Ketika perempuan sudah berhasil mendobrak dinding kokoh antara yang publik dan yang privat, apakah perjuangan feminism sudah selesai? Perempuan sudah bisa mengakses ruang publik seluas-luasnya, perempuan sudah punya hak suara untuk memilih pemimpinnya, perempuan sudah bisa menentukan pilihan hidupnya termasuk urusan ketubuhannya sebagai ruang kebudayaan, sudah bebaskah perempuan? Ternyata tidak. Perempuan justru masuk dalam ruang maskulinitas baru, yaitu kapitalisasi ketubuhan perempuan. Hannah Arendt, seorang pemikir politik Jerman-Amerika, pernah mengatakan bahwa ruang publik adalah ruang dimana identitas menjadi terdefinisikan. Identitas perempuan yang cantik, bertubuh sempurna, dan idealitas lainnya didefinisikan di ruang publik. Olehnya itu, kapitalisme mendapat konsumen baru untuk mengakumulasikan kapital, yaitu tubuh perempuan.
Dewi Candraningrum selaku pembicara dengan cermat membahas fenomena ini. Dengan meminjam perspektif Angela Mc Robbie, seorang feminis Inggris. Apa yang disebut feminis palsu menjadi titik tolak, bahwa feminism konvensional telah ditunggangi oleh kapitalisme. Mahram Mubarak selaku pemantik diskusi mengajak peserta milenial mengamati fenomena ini sebagai yang sehari-hari dihadapi. Fokus dari Angela Mc Robbi berhasil menggeser perspektif feminisme tradisionalke post-feminisme, bukan menyudahi feminisme, tetapi melampauinya.
Acara Tadarus Film ini dihadiri sekitar 40 penonton, yang sangat antusias mengikuti acara hingga akhir. Rencananya gelaran ni akan dilakukan tiap hari Sabtu minggu pertama setiap bulan. (Mahram)